Gayatri Putri News – 11 Oktober 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan menyerukan agar Ukraina memilih pemimpin baru, hanya sehari setelah ia menyepakati kesepakatan minyak dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih pada Sabtu, 10 Oktober 2026, di tengah ketegangan yang memanas antara Washington dan Kyiv.
“Saya sarankan mereka mencari pemimpin baru yang bisa membuat kesepakatan,” ujar Trump. “Dia seharusnya bisa membuat banyak kesepakatan, tapi entah kenapa, dia tidak pernah melakukannya.” Trump juga menyalahkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy atas pecahnya perang antara Rusia dan Ukraina, yang ia sebut akibat “ketidakmampuan” pemimpin Ukraina tersebut.
“Itu adalah perang yang seharusnya tidak pernah dimulai. Dan saya rasa sudah waktunya Ukraina mendapatkan presiden baru,” tegasnya.
Serangan Drone Ukraina di Rostov Usai Kesepakatan Diesel
Pernyataan Trump muncul tak lama setelah Ukraina melancarkan serangan drone besar-besaran ke fasilitas energi Rusia di wilayah Rostov. Serangan yang berlangsung pada malam hingga Sabtu dini hari itu menghantam terminal pemuatan minyak Yug Rusi di Rostov-on-Don, yang menangani produk petroleum untuk ekspor, termasuk pasokan dari Kilang Minyak Novoshakhtinsk.
Gubernur Rostov Yuri Slyusar menyatakan lebih dari 100 kendaraan udara tak berawak (UAV) ditembak jatuh sejak Jumat malam. Meski demikian, kobaran api besar tetap terjadi di fasilitas tersebut. Menurut laporan, serangan itu juga merusak jembatan kereta api dan sempat mengganggu layanan kereta di kedua arah. Dua kapal kargo di Pelabuhan Azov juga dilaporkan rusak akibat serangan drone pada malam yang sama.
Serangan ini menjadi jawaban tegas Kyiv atas keputusan Washington yang mengejutkan untuk melonggarkan sanksi terhadap ekspor bahan bakar Rusia. Ukraina menilai kesepakatan tersebut dapat memberikan tambahan pendapatan bagi Moskow untuk membiayai perang melawan Ukraina.
Isi Kesepakatan Trump-Putin
Dalam pernyataannya di Truth Social pada Jumat, 9 Oktober, Trump mengumumkan bahwa ia telah mencapai kesepakatan dengan Putin melalui percakapan telepon. Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton diesel ke pasar internasional, disusul 500.000 ton pada November, dan satu juta ton tak lama setelahnya.
“Selain itu, berdasarkan kondisi kilang diesel mereka, Rusia kemudian akan mengirimkan 3.000.000 ton bahan bakar diesel dalam waktu singkat,” tulis Trump. Ia menegaskan bahwa harga diesel bagi warga Amerika dan dunia akan turun dengan cepat.
Trump menyebut langkah ini sebagai upaya menurunkan harga bahan bakar bagi rakyat Amerika, terutama petani, peternak, dan pengemudi truk. Namun, sejumlah pengamat menilai kesepakatan ini sarat nuansa politik menjelang pemilihan sela pada 3 November 2026.
Dampak Nyata bagi Pasar Energi
Meski Trump optimistis, para analis meragukan efektivitas kesepakatan ini. Data dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan warga Amerika mengonsumsi sekitar 3,77 juta barel diesel dan bahan bakar distilat lainnya setiap hari. Artinya, pengiriman awal 300.000 ton hanya cukup untuk menutupi lebih dari 14 jam konsumsi nasional.
Michael Lynch dari Energy Policy Research Foundation menilai pengiriman diesel Rusia hanya akan mengalihkan pasokan yang sudah ada, bukan meningkatkan ketersediaan global secara signifikan. “Ini seperti menata kursi di atas Titanic,” ujarnya. Menurut Lynch, jika Amerika mendapatkan diesel dari Rusia, pelanggan lama Rusia tidak akan mendapatkannya dan harus mencari sumber lain, sehingga harga global tidak akan banyak berubah.
- 300.000 ton diesel tahap pertama: setara lebih dari 14 jam konsumsi AS
- 500.000 ton tambahan pada November: total sekitar 1,5 hari konsumsi AS
- 3.000.000 ton berikutnya: tetap tidak menutupi kebutuhan jangka panjang
Kritik dan Konsekuensi
Keputusan Trump menuai kritik keras. Seorang pejabat AS menyebut Zelenskyy “salah membaca situasi” karena terus menghantam kilang minyak Rusia, yang dianggap mengikis niat baik yang telah dibangun dengan Trump selama enam bulan terakhir. Trump sendiri mengklaim telah enam kali meminta Zelenskyy menghentikan serangan terhadap infrastruktur minyak Rusia.
Di sisi lain, serangan Rusia terhadap warga sipil di Zaporizhzhia terus berlanjut. Setelah percakapan Trump-Putin, pasukan Rusia menyerang saat warga tertidur, menewaskan tujuh orang, termasuk sedikitnya tiga anak perempuan, sementara 10 lainnya luka-luka dan 16 orang dilaporkan hilang. Dalam tiga hari, jumlah warga sipil yang tewas akibat serangan Rusia mendekati 90 orang.
Zelenskyy menuduh Trump menunjukkan “kelemahan” dengan menyerah pada tuntutan Putin. Sementara itu, serangan drone Ukraina ke Rostov menegaskan bahwa Kyiv tidak akan mundur dari strategi melumpuhkan infrastruktur energi Rusia, meski Washington kini justru bergantung pada Moskow untuk pasokan diesel.
Kesepakatan diesel Trump-Putin dan serangan balasan Ukraina di Rostov menggambarkan babak baru dalam konflik yang semakin rumit. Di satu sisi, Trump berupaya menekan harga bahan bakar demi kepentingan politik domestik menjelang pemilu sela. Di sisi lain, Ukraina bersikeras mempertahankan kedaulatan dan menggagalkan upaya Rusia memanfaatkan energi sebagai alat pendanaan perang. Ketegangan ini tidak hanya menguji hubungan Washington-Kyiv, tetapi juga stabilitas pasar energi global yang kini menjadi taruhan politik dan strategis.
Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda
Sumber Berita: whitehouse.gov, Axios, Kyiv Independent, CNN, Newsweek, Militarnyi, RIA Novosti, Truth Social, EIA.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






