Memahami Arti Mimpi Orang yang Disukai Menurut Islam

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Memahami Arti Mimpi Orang yang Disukai Menurut Islam

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 11 Oktober 2026 | Mimpi bertemu seseorang yang disukai sering kali meninggalkan perasaan senang dan bingung bagi orang yang mengalaminya. Banyak yang kemudian bertanya-tanya apakah mimpi tersebut merupakan pertanda bahwa orang yang dimaksud memiliki perasaan yang sama, atau justru sebaliknya. Pengalaman ini dapat dipahami melalui sudut pandang psikologi maupun ajaran Islam, yang sama-sama mengingatkan pentingnya memahami mimpi secara bijak.

Perasaan senang setelah mengalami mimpi semacam ini merupakan hal yang wajar. Namun, sebelum menghubungkannya dengan hubungan asmara atau masa depan, perlu dipahami bahwa mimpi bisa muncul dari aktivitas pikiran dan ingatan yang tersimpan di dalam otak. Ketika seseorang tidur, otak tetap menjalankan berbagai proses, termasuk mengolah emosi dan informasi yang diperoleh selama terjaga.

Peran Fase REM dalam Mimpi

Salah satu tahap tidur yang berkaitan dengan aktivitas otak tersebut adalah REM, singkatan dari rapid eye movement. Pada fase ini, otak menjadi sangat aktif dan sering kali menjadi momen munculnya mimpi yang vivid atau terasa nyata. Ingatan mengenai seseorang yang memiliki arti emosional dapat muncul kembali ketika tidur. Pengalaman melihat fotonya, membaca pesannya, atau mendengar sesuatu yang mengingatkan kepada dirinya bisa menjadi bagian dari materi yang muncul dalam mimpi.

Dengan demikian, mimpi tentang orang yang disukai tidak selalu menandakan bahwa orang tersebut memiliki perasaan yang sama. Bisa jadi mimpi itu murni merupakan hasil kerja otak dalam mengolah memori dan emosi yang tersimpan, bukan isyarat tentang perasaan atau takdir tertentu.

Pandangan Islam tentang Mimpi

Dalam ajaran Islam, mimpi memiliki kedudukan yang istimewa. Mimpi dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis, dan tidak semua mimpi dianggap sebagai pertanda atau pesan dari Allah. Ada mimpi yang berasal dari bisikan setan, ada pula yang merupakan bunga tidur dari pikiran manusia, serta ada mimpi yang benar-benar merupakan kabar baik dari Allah.

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak langsung mempercayai atau mengaitkan mimpi dengan hal-hal gaib, terlebih jika mimpi tersebut berkaitan dengan perasaan pribadi terhadap lawan jenis. Sikap bijak adalah dengan tidak menjadikan mimpi sebagai dasar utama dalam mengambil keputusan, termasuk dalam urusan perasaan atau jodoh.

Menyikapi Mimpi dengan Bijak

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar tidak terjebak dalam tafsir berlebihan terhadap mimpi tentang orang yang disukai, antara lain:

  • Menyadari bahwa mimpi adalah proses alami otak dalam mengolah emosi dan ingatan.
  • Tidak menjadikan mimpi sebagai satu-satunya petunjuk tentang perasaan orang lain.
  • Berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah agar diberikan kejelasan dalam urusan hati.
  • Tetap fokus pada realitas dan komunikasi yang sehat, bukan sekadar bisikan mimpi.

Dengan memahami hal ini, seseorang dapat lebih tenang dan tidak mudah terbawa perasaan berlebihan. Mimpi tentang orang yang disukai bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan, tetapi tetap harus disikapi dengan akal sehat dan iman yang kuat.