Liga Brasil di Sorotan: Bintang Brasil di Liga MX Femenil Serukan Revolusi Sepak Bola Negaranya

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Liga Brasil di Sorotan: Bintang Brasil di Liga MX Femenil Serukan Revolusi Sepak Bola Negaranya

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 10 Oktober 2026 | Porto Alegre, Brasil — Panggung sepak bola Brasil kembali menjadi pusat perhatian dunia menjelang laga persahabatan bergengsi antara Brasil dan Argentina. Namun, di balik euforia duel klasik Amerika Selatan tersebut, muncul sebuah narasi menarik yang menyeret nama liga Brasil ke dalam diskusi soal masa depan sepak bola wanita. Dua pemain bintang yang kini berkarier di Liga MX Femenil, Geyse Ferreira dan Priscila da Silva, secara terbuka menyerukan agar Brasil meniru model pengelolaan yang diterapkan Meksiko untuk memajukan kompetisi domestiknya.

Momen Haru Isa Haas Sebelum Brasil vs Argentina

Suasana menjelang laga Brasil kontra Argentina di Stadion Beira-Rio, Porto Alegre, diwarnai kisah emosional. Bek timnas Brasil yang juga memperkuat Club América Femenil, Isa Haas, menerima kejutan istimewa dari keluarga dan sahabatnya. Dalam sebuah video yang diputar saat sesi wawancara eksklusif bersama media setempat, kerabat Isa menyampaikan kata-kata penuh dukungan dan kebanggaan atas pencapaiannya membela Selecao. Momen tersebut langsung menyentuh hati publik dan menjadi salah satu konten paling viral jelang kick-off.

Kejutan itu menjadi pengingat bahwa di balik ketatnya persaingan di lapangan, sepak bola tetap menyimpan dimensi manusiawi yang jarang terekspos. Isa, yang didatangkan América dari ajang liga Brasil, kini menjadi salah satu pilar pertahanan tim besutan Angel Villacampa bersama sejumlah rekannya asal Brasil seperti Geyse Ferreira dan Priscila Flor da Silva.

Seruan Geyse dan Priscila: Belajar dari Liga MX Femenil

Dalam konferensi pers sebelum laga, Geyse dan Priscila tidak hanya membahas persiapan menghadapi Argentina. Keduanya justru menyoroti perbedaan mencolok antara ekosistem sepak bola wanita di Meksiko dan Brasil. Menurut Priscila, salah satu keunggulan Liga MX Femenil adalah kebijakan yang mewajibkan setiap pertandingan digelar di stadion besar, sehingga penonton dapat hadir langsung dan membangun kedekatan dengan klub.

“Kami baru sebentar di Meksiko, tapi dampaknya luar biasa, terutama soal bermain di stadion. Menurut saya Meksiko unggul di aspek ini karena mereka selalu memprioritaskan pertandingan di stadion, penonton benar-benar datang dan mendukung kami,” ujar Priscila. Ia berharap Brasil dapat meniru kebijakan serupa agar atmosfer liga domestik lebih hidup.

Sementara itu, Geyse Ferreira menyoroti aspek penyiaran. Penyerang yang saat ini memuncaki daftar top skor dengan 16 gol tersebut menilai media di Meksiko memberikan porsi besar terhadap sepak bola wanita, sehingga koneksi antara suporter dan kompetisi jauh lebih kuat. “Poin kunci Meksiko adalah semua pertandingan dimainkan di stadion, apa pun laga. Media di sana sangat kuat. Jika Brasil melakukan hal yang sama dengan baik, para penggemar akan lebih mendukung sepak bola wanita,” tegasnya.

Kompleksitas Jadwal dan Dampak bagi Klub

Di sisi lain, gelaran FIFA Matchday kali ini turut memengaruhi dinamika kompetisi domestik, khususnya bagi Club América Femenil. Klub berjuluk Las Aguilas tersebut harus kehilangan lebih dari sepuluh pemain kunci yang dipanggil membela negaranya masing-masing, termasuk Montserrat Saldivar, Celeste Espino, Scarlett Camberos, hingga Giana Riley yang memperkuat timnas U-23 Meksiko. Meski begitu, skuad asuhan Angel Villacampa tetap melanjutkan sesi latihan rutin sebagai bentuk persiapan menyambut lanjutan Apertura 2026.

Absennya para pemain inti menjadi tantangan tersendiri bagi klub-klub Liga MX Femenil yang harus menyeimbangkan ambisi domestik dengan kewajiban internasional. Kondisi ini justru memperkuat argumen bahwa pengelolaan liga yang profesional—seperti yang diterapkan Meksiko—menjadi kunci untuk menjaga kualitas kompetisi di tengah padatnya kalender pertandingan.

Pelajaran dari Kompetisi Eropa

Diskusi soal pengelolaan liga juga bergema di belahan dunia lain. Di Jerman, Borussia Dortmund baru saja kehilangan rekor 100 persen kemenangannya setelah ditahan imbang Werder Bremen 2-2 di Signal Iduna Park. Gol Daniel Svensson dan Nico Schlotterbeck tak cukup membawa Die Schwarzgelben meraih poin penuh setelah Ludovit Reis dan Niclas Fullkrug menyamakan kedudukan di menit-menit akhir. Hasil ini membuat Dortmund mengoleksi 13 poin dari lima laga dan terancam kehilangan puncak klasemen Bundesliga jika Bayern Munich meraih kemenangan.

Contoh Dortmund menunjukkan bahwa konsistensi di kompetisi domestik sangat dipengaruhi oleh kedalaman skuad dan manajemen yang matang—prinsip yang juga berlaku bagi liga Brasil jika ingin bersaing di level global, baik di sektor putra maupun putri.

Menanti Aksi di Lapangan

Laga Brasil versus Argentina dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 10 Oktober, pukul 13.30 waktu Meksiko tengah, dan akan digelar kembali pada Selasa, 13 Oktober, di Arena Pernambuco. Bagi Geyse, Priscila, dan Isa, dua pertandingan ini bukan sekadar uji coba, melainkan panggung untuk membuktikan bahwa pemain yang berkarier di liga Brasil dan Liga MX Femenil mampu bersaing di level internasional.

Kisah ketiganya menjadi cermin bahwa kemajuan sepak bola wanita tidak bisa dilepaskan dari ekosistem liga yang sehat. Mulai dari kebijakan bermain di stadion, liputan media yang masif, hingga manajemen klub yang solid, semua elemen saling terkait. Jika Brasil serius ingin mengangkat pamor liga Brasil, seruan Geyse dan Priscila bisa menjadi titik balik yang layak dipertimbangkan oleh para pemangku kepentingan sepak bola di negeri Samba.

Pada akhirnya, duel Brasil kontra Argentina bukan hanya tentang siapa yang keluar sebagai pemenang, tetapi juga tentang bagaimana sepak bola wanita di kawasan ini terus tumbuh dan menemukan identitasnya. Dengan talenta-talenta seperti Geyse, Priscila, dan Isa Haas, masa depan tampak cerah—asalkan ekosistem kompetisi domestik mampu menopangnya dengan baik.

Sumber Berita: Gaucha Esportes, Fox Sports Digital, CNN Brasil, PCMag Australia, Metropoles.

Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda