Gayatri Putri News – 09 Oktober 2026 | Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kembali menjadi pusat perhatian pelaku pasar dalam beberapa hari terakhir. Di tengah dinamika bursa saham domestik, emiten bank pelat merah ini mencatatkan fluktuasi harga yang cukup tajam, mulai dari tekanan jual investor asing hingga penguatan yang mampu menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada perdagangan Jumat (9/10/2026) sesi pertama, BBRI berhasil melonjak 1,32% ke level Rp3.070 per saham. Sebanyak 45 juta saham ditransaksikan dengan nilai transaksi mencapai Rp138,89 miliar hingga tengah hari. Penguatan saham BBRI ini menjadi salah satu pendorong utama IHSG yang solid di zona hijau dengan kenaikan 0,35% ke posisi 6.052,51. Rentang perdagangan IHSG bergerak di area 5.995,82 hingga 6.059,5, dengan nilai perdagangan mencapai Rp4,58 triliun dari 19,01 miliar saham yang diperjualbelikan.
Namun, gambaran berbeda terlihat pada perdagangan sebelumnya. BBRI tercatat turun 3,50% seiring aksi jual investor asing yang kembali membayangi pasar. Di pasar reguler, nilai net sell asing mencapai Rp848,28 miliar, sedangkan di seluruh pasar tercatat Rp867,27 miliar. Tekanan jual asing terutama terlihat pada BBRI, BMRI, dan AMMN dengan nilai sekitar Rp461,93 miliar. Ketiga saham tersebut juga masuk dalam daftar 10 saham yang paling menekan pergerakan indeks.
Dari 11 sektor yang diperdagangkan, sembilan sektor berakhir di zona merah. Sektor Industrial menjadi yang mengalami penurunan paling dalam, yakni 2,86%, sementara sektor Health menjadi satu dari dua sektor yang menguat dengan kenaikan 0,70%. Pergerakan bursa Amerika Serikat juga berlangsung beragam. Dow Jones naik 0,10% ke 51.231, sedangkan S&P 500 turun 0,47% ke 7.765 dan Nasdaq melemah 1,25% ke 27.193. ETF EIDO turun 1,60% dan MSCI Indonesia melemah 1,96%.
Kinerja Keuangan BBRI hingga Agustus 2026
Di sisi fundamental, BBRI mencatat laba bersih Rp3,9 triliun pada Agustus 2026, turun 3% secara tahunan (YoY), tetapi naik 16% dalam sebulan. Laba tersebut mengakumulasi laba bersih bank only BBRI selama delapan bulan pertama 2026 menjadi Rp34,8 triliun, tumbuh 7% YoY. Meski masih tumbuh secara tahunan, kinerja BBRI mulai menunjukkan perlambatan. Laba Juli-Agustus 2026 turun 7% YoY, berbalik dari pertumbuhan 11% YoY pada semester I/2026.
Tekanan terutama datang dari kenaikan beban bunga yang mencapai 9% YoY, seiring peningkatan time deposits sekitar 15% sejak Juni. Di saat yang sama, kredit dan Current Account Saving Account (CASA) hanya tumbuh sekitar 1%, sehingga cost of funds ikut naik dan NIM Juli-Agustus turun ke bawah 6%, dari 6,4% sampai paruh pertama tahun ini.
Di sisi lain, kualitas aset masih menjadi titik positif. Beban pencadangan Agustus turun 11% YoY menjadi sekitar Rp3,1 triliun, dengan CoC turun ke 2,6%. Secara 8M26, CoC berada di 3,2%, membaik dari 3,3% tahun lalu meski kredit tumbuh cukup tinggi sebesar 14% YoY. Kenaikan time deposits disebut merupakan langkah antisipasi BBRI menghadapi potensi penarikan sebagian dana SAL pemerintah pada kuartal empat tahun ini. Dari sekitar Rp300 triliun dana SAL yang ditempatkan di Himbara, sekitar Rp200 triliun akan diperpanjang hingga Juli 2027.
Rekomendasi Analis dan Sentimen Pasar
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah analis masih melihat peluang pada saham BBRI. Riset PT Reliance Sekuritas Tbk merekomendasikan BBRI sebagai salah satu saham pilihan bersama HMSP, SCMA, dan PGEO. Rekomendasi ini muncul setelah IHSG ditutup melemah pada level 6.146,72 (-0,75%) pada Rabu (7/10). Pelemahan dipimpin oleh saham-saham sektor Transportation & Logistics (-3,16%) dan Technology (-3,09%).
Asing membukukan net sell sebesar Rp826,65 miliar di pasar reguler dengan saham-saham yang paling banyak dijual seperti BBCA, GOTO, BUMI, BRIS, dan TPIA. Sentimen negatif disebabkan oleh aksi profit taking dan rilis cadangan devisa yang menurun menjadi 146,3 miliar dolar AS pada September 2026, dari sebelumnya 146,5 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya yang merupakan level tertinggi dalam lima bulan.
Secara teknikal, candle terakhir IHSG berbentuk bearish, masih di atas MA5, dengan indikator Stochastic death cross. Analis memperkirakan IHSG akan mengalami pelemahan dengan support pada level 6.095 dan resistance pada level 6.193.
Daftar Saham Bank yang Dipantau
Selain BBRI, terdapat delapan emiten perbankan Tanah Air yang kinerja keuangannya hingga Agustus 2026 menjadi perhatian pasar, yaitu:
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)
- PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
- PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA)
- PT Bank OCBC Indonesia Tbk (NISP)
Sejumlah saham masih mencatatkan kenaikan, seperti AMRT yang naik 2,04%, KLBF menguat 2,65%, dan ASII bertambah 0,42%. Di sisi lain, BBRI turun 3,50%, AMMN melemah 6,40%, sedangkan BMRI terkoreksi 3,50%.
Dengan kombinasi antara tekanan jual asing, perlambatan kinerja laba, namun di sisi lain kualitas aset yang membaik dan rekomendasi analis, saham BBRI masih menjadi salah satu instrumen yang menarik untuk dicermati. Investor disarankan tetap memperhatikan faktor risiko, terutama terkait kebijakan suku bunga dan pergerakan dana pemerintah yang dapat memengaruhi likuiditas perbankan pada kuartal mendatang.
Sumber Berita: Bloomberg Technoz, Mikirduit, TopBusiness
Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






