Nana Patekar Meninggal Dunia: Kasus Kematian Tidak Wajar Dibuka, Upacara Kremasi Kenegaraan hingga Penghormatan Terakhir Munawar Faruqui

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Nana Patekar Meninggal Dunia: Kasus Kematian Tidak Wajar Dibuka, Upacara Kremasi Kenegaraan hingga Penghormatan Terakhir Munawar Faruqui

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 09 Oktober 2026 | Industri hiburan India berduka mendalam. Aktor senior Nana Patekar meninggal dunia pada Kamis, 8 Oktober 2026, setelah mengeluh nyeri dada hebat. Pria berusia 75 tahun itu ditemukan tak sadarkan diri di kediamannya di Dona Paula, Goa, dan dilarikan ke Manipal Hospital di Bambolim. Menurut keterangan Dr Shekhar Salkar, kepala departemen onkologi rumah sakit tersebut, tim medis berupaya melakukan resusitasi jantung paru selama sekitar 45 menit, namun nyawa sang aktor tidak dapat diselamatkan. Ia dinyatakan telah meninggal saat tiba di ruang gawat darurat.

Kasus Kematian Tidak Wajar dan Prosedur Hukum

Kepolisian Goa resmi membuka kasus kematian tidak wajar menyusul berpulangnya Nana Patekar. Kasus ini terdaftar berdasarkan Pasal 194 Bharatiya Nagarik Suraksha Sanhita (BNSS). Langkah hukum ini merupakan prosedur standar dalam situasi serupa dan tidak secara otomatis mengindikasikan adanya tindak pidana. Aparat akan melakukan inkuiri serta pemeriksaan post-mortem untuk memastikan penyebab pasti kematian. Laporan awal menyebutkan kemungkinan serangan jantung, namun hasil otopsi masih ditunggu untuk menarik kesimpulan final. Investigasi difokuskan pada upaya mengungkap fakta-fakta di sekitar kepergian sang aktor.

Kremasi dengan Penghormatan Kenegaraan

Jenazah Nana Patekar disemayamkan dan dikremasi dengan penghormatan penuh kenegaraan di kediaman pertaniannya di Desa Donje, dekat Pune, pada Kamis malam. Upacara sakral itu dipimpin langsung oleh putranya, Malhar Patekar, yang melaksanakan ritual terakhir. Dalam keterangannya kepada media, Malhar menyampaikan pesan mendalam tentang warisan sang ayah. Ia menyebut sosok seperti Nana Saheb tidak akan pernah benar-benar pergi karena pencapaiannya telah membuatnya abadi. Ia juga mengenang keyakinan ayahnya bahwa semua orang harus bersatu dan menempuh jalan kebenaran, serta menegaskan bahwa meneruskan visi yang ditinggalkan adalah cara untuk membentuk kehidupan ke depan.

Sejumlah tokoh penting hadir memberikan penghormatan terakhir. Tampak di antaranya aktor Jackie Shroff, Pravin Tarde, produser Sajid Nadiadwala, dan sutradara Anil Sharma. Hadir pula Menteri Persatuan Ramdas Athawale, Wakil Ketua Menteri Maharashtra Eknath Shinde dan Sunetra Pawar, Menteri Maharashtra Chandrakant Patil, mantan Ketua Komisi Perempuan Roopali Chakankar, serta politikus Bhai Jagtap. Sutradara Krantiveer, Mehul Kumar, dan penulis Kiran juga turut melayat.

Jadwal Terakhir yang Tak Terwujud dan Penghormatan Madhuri Dixit

Sebelum berpulang, Nana Patekar dijadwalkan tampil sebagai tamu istimewa pada episode perdana Kon Honar Crorepati, versi Marathi dari Kaun Banega Crorepati yang dibawakan Madhuri Dixit. Episode tersebut rencananya direkam pada akhir pekan, namun takdir berkata lain. Setelah kepergiannya, aktris Sonali Bendre akan tampil menggantikannya di episode pembuka acara kuis Sony Marathi tersebut.

Madhuri Dixit, yang pernah beradu akting dengan Nana dalam film Wajood pada 1998, menyampaikan duka cita mendalam melalui unggahan di Instagram. Ia mengenang Nana sebagai seniman hebat, pribadi yang kuat, dan suara yang tak terlupakan. Menurutnya, kepergian Nana Patekar membuat industri film kehilangan aktor legendaris yang sangat berharga.

Tribute Munawar Faruqui dan Kesederhanaan Sang Legenda

Komedian tunggal Munawar Faruqui turut memberikan penghormatan emosional. Saat berada di lokasi penghormatan, ia menolak permintaan fotografer untuk mengulang adegan meletakkan bunga di depan potret Patekar demi kepentingan kamera. Dengan tegas ia mengatakan tidak akan mengulanginya hanya untuk sebuah foto, menegaskan bahwa momen penghormatan harus tetap tulus. Faruqui menyebut Nana Patekar sebagai inspirasi artistik besar yang menyalakan gairahnya terhadap teater dan akting, serta mengaku film favoritnya sepanjang masa adalah Natsamrat.

Nana Patekar dikenal hidup jauh dari gemerlap bintang dan memilih gaya hidup sederhana, hampir seperti seorang petani. Dalam sebuah wawancara saat mempromosikan The Vaccine War, ia pernah mengungkapkan telah menyimpan 12 maunds kayu kering di kediaman pertaniannya di Pune untuk proses kremasinya kelak. Takdir membawanya dikremasi di tempat yang sama.

Warisan Seni yang Tak Terlupakan

Sepanjang karier yang membentang hampir lima dekade, Nana Patekar meninggalkan jejak mendalam di dunia perfilman India. Ia memulai debut aktingnya melalui film Gaman pada 1978 dan kemudian meraih pujian luas lewat penampilan di berbagai judul ikonik seperti Parinda, Prahar, Angaar, Krantiveer, Tiranga, Khamoshi, dan Ab Tak Chhappan. Namanya juga melekat pada film Ankush, Apaharan, Taxi No. 9211, dan Welcome. Di tahun-tahun terakhir, ia tampil dalam Housefull 5 bersama Akshay Kumar, Abhishek Bachchan, dan Riteish Deshmukh, berperan sebagai perwira polisi dalam O’Romeo arahan Vishal Bhardwaj bersama Shahid Kapoor dan Triptii Dimri, serta membuat penampilan cameo di Subedar yang dibintangi Anil Kapoor dan Radhika Madan.

Kemampuan Nana Patekar mengubah dialog biasa menjadi kalimat tak terlupakan menjadi bagian penting dari warisannya. Dari kemarahan Krantiveer dan ancaman di Parinda hingga realisme Ab Tak Chhappan serta komedi datar Welcome, setiap lini masa yang ia ucapkan meninggalkan kesan mendalam. Dalam Parinda arahan Vidhu Vinod Chopra, perannya sebagai Anna, gangster kejam yang mengendalikan kerajaan kriminal, bahkan mengantarkannya meraih Penghargaan Nasional. Sementara di Krantiveer, ia memerankan Pratap Narayan Tilak, seorang pemabuk kecewa yang menjelma pejuang antikorupsi dan kebencian komunal, dengan salah satu pertanyaan sederhana namun menghujam tentang apakah orang bisa membedakan darah Muslim dan Hindu.

Kepergian Nana Patekar meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, rekan seprofesi, dan jutaan penggemar. Namun sebagaimana disampaikan putranya, pencapaian dan nilai-nilai yang ia perjuangkan akan terus hidup. Sosoknya akan dikenang bukan hanya sebagai aktor besar, tetapi juga sebagai pribadi yang teguh pada kebenaran dan kesederhanaan. Industri film India telah kehilangan salah satu suara paling kuat dan paling jujur yang pernah dimilikinya, sementara warisan seninya akan terus menginspirasi generasi mendatang.

Editor: Rizky Zulianda
Penulis: Muhammad Nur

Sumber Berita: India Today, Telugu360, PTI, dan laporan media terkait.