Gayatri Putri News – 06 Oktober 2026 | Stadion Toumba di Thessaloniki menjadi saksi bagaimana sepak bola bisa begitu kejam sekaligus mempesona dalam satu malam. Tim nasional Jerman datang dengan misi membalas kekalahan memalukan dari Yunani sepekan sebelumnya di Augsburg, namun pulang dengan kepala tertunduk setelah hanya mampu bermain imbang 0-0 dalam lanjutan Grup A2 UEFA Nations League, Senin dini hari WIB.
Nama Jonathan Burkardt menjadi pusat perhatian dalam laga ini. Penyerang Eintracht Frankfurt itu dipercaya pelatih Jürgen Klopp untuk mengisi posisi ujung tombak sejak menit pertama, menggantikan Nick Woltemade yang tampil apik saat Jerman mengalahkan Serbia 2-0 di Munich. Keputusan Klopp itu sempat terlihat brilian ketika Burkardt menjebol gawang Konstantinos Tzolakis pada menit ke-32.
Selebrasi sudah dimulai. Para pemain Jerman berlari ke sudut lapangan, suporter tamu yang menempuh perjalanan jauh ke Thessaloniki bersorak gembira. Namun kegembiraan itu hanya bertahan beberapa detik. Wasit Clement Turpin menghentikan pertandingan dan menunjuk ke monitor VAR di pinggir lapangan.
Keputusan VAR yang Memicu Kontroversi
Tayangan ulang dengan jelas memperlihatkan bahwa Tom Bischof, gelandang muda Jerman, menyentuh bola dengan tangannya dalam proses terciptanya gol tersebut. Turpin tidak punya pilihan selain menganulir gol Burkardt. Media Jerman Sky menyebut keputusan itu “löjligt” atau konyol dalam laporan langsung mereka, mencerminkan frustrasi yang melanda kubu tamu.
Ini bukan kali pertama Burkardt merasakan pahitnya teknologi garis gawang dan VAR. Sebelumnya, ia juga sempat masuk sebagai pemain pengganti saat Jerman mengalahkan Serbia, dan kini ia mendapatkan kesempatan sebagai starter namun harus menerima kenyataan pahit golnya dianulir.
Dominasi Tanpa Ketajaman
Secara statistik, Jerman benar-benar menguasai pertandingan. Anak asuh Klopp mencatatkan penguasaan bola mencapai 70,1 persen dan melepaskan 21 percobaan ke gawang, sementara Yunani hanya lima kali mengancam. Namun dominasi itu tidak berbuah gol.
Konstantinos Tzolakis tampil gemilang di bawah mistar Yunani dengan empat penyelamatan krusial. Bek veteran Konstantinos Mavropanos, mantan pemain VfB Stuttgart, juga tampil solid di jantung pertahanan, termasuk meredam sundulan berbahaya dari Florian Wirtz dan peluang Philipp Treu yang memilih mengoper ketimbang menembak.
- Penguasaan bola: Jerman 70,1% – Yunani 29,9%
- Tembakan ke gawang: Jerman 21 – Yunani 5
- Penyelamatan kiper Yunani: 4
- Gol dianulir: 1 (Jonathan Burkardt, menit 32)
Rotasi Besar-besaran Klopp
Klopp melakukan rotasi besar-besaran dengan menurunkan tiga pemain baru dibandingkan laga melawan Serbia. David Raum masuk menggantikan Maximilian Mittelstädt di posisi bek kiri, Lennart Karl tampil pertama kali sebagai starter menggantikan Serge Gnabry, dan Burkardt menggeser Woltemade di lini depan.
Formasi 4-3-3 yang diterapkan Klopp menempatkan Burkardt sebagai target man, didukung oleh Karl, Derry Scherhant, dan Wirtz di lini serang. Di lini tengah, Aleksandar Pavlović, Tom Bischof, dan Wirtz menjadi motor permainan. Sementara di belakang, Jonas Urbig yang baru menjalani debut bersama timnas tetap dipercaya sebagai kiper utama.
Menariknya, laga ini juga menandai akhir sebuah era. DFB mengonfirmasi bahwa Jerman mengenakan jersey hitam buatan Adidas untuk terakhir kalinya, mengakhiri kemitraan 72 tahun sebelum Nike mengambil alih mulai Januari 2027.
Posisi di Grup A2
Hasil imbang ini membuat Yunani menempati posisi kedua Grup A2 dengan delapan poin, hanya kalah selisih gol dari Belanda yang memuncaki klasemen setelah mengalahkan Serbia 2-1 berkat gol Joshua Zirkzee. Sementara Jerman tertahan di peringkat ketiga dengan lima poin dari empat pertandingan, dan Serbia terpuruk di dasar klasemen tanpa poin.
Rekor Klopp sebagai pelatih baru Jerman kini mencatatkan satu kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan dalam empat laga pertamanya. Sebuah awal yang jauh dari kata ideal untuk pelatih yang diharapkan membawa perubahan besar bagi Die Mannschaft.
Jalan Masih Panjang
Di sisi lain, Portugal telah memastikan diri sebagai tim pertama yang lolos ke perempat final Nations League setelah mengalahkan Norwegia 2-1. Kemenangan itu diraih tanpa kehadiran Cristiano Ronaldo yang meninggalkan kamp setelah pelatih Jorge Jesus mencadangkannya. Goncalo Ramos menjadi pahlawan kemenangan Portugal dengan gol pada menit ke-86.
Bagi Jerman, jeda internasional berikutnya akan menjadi penentu. Mereka akan menghadapi Belanda dan Serbia dalam dua laga krusial yang menentukan apakah mereka bisa melaju ke fase gugur Nations League. Klopp harus segera menemukan formula yang tepat untuk mengubah dominasi menjadi gol, dan mungkin, memberikan Burkardt kesempatan lagi untuk membuktikan bahwa golnya bukan sekadar ilusi yang dianulir teknologi.
Pertanyaan besar kini menggantung: apakah Burkardt akan tetap menjadi pilihan utama di lini depan Jerman, atau akankah Woltemade kembali mengambil alih posisi yang sempat ia isi dengan baik? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti, sepak bola Jerman sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan di bawah kepemimpinan Klopp.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






