Gayatri Putri News – 04 Oktober 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sepekan dengan kinerja negatif setelah tertekan 3,28 persen ke level 6.036,89 pada Jumat (2/10/2026). Pelemahan indeks terjadi di tengah tekanan ganda dari melemahnya nilai tukar rupiah dan lonjakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).
Meski sempat menguat 0,46 persen atau 27,39 poin pada perdagangan Jumat, akumulasi mingguan IHSG tetap tidak mampu keluar dari zona merah. Tekanan jual mendominasi pasar modal Indonesia sepanjang periode 28 September hingga 2 Oktober 2026.
Rupiah dan Yield SBN Beri Tekanan
Tekanan pasar kian terasa pada sesi perdagangan Kamis (1/10/2026). Saat itu IHSG merosot 1,02 persen ke level 6.009,50, titik terendah dalam dua bulan terakhir.
Pada hari yang sama, rupiah terdepresiasi ke level Rp17.963 per dolar AS. Sementara itu, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik menjadi 7,159 persen dari posisi sebelumnya 7,106 persen.
Kenaikan yield SBN biasanya mencerminkan meningkatnya persepsi risiko dan tekanan jual di pasar obligasi. Kondisi ini turut menyeret sentimen di pasar saham karena investor cenderung beralih ke aset yang lebih aman.
FORU Pimpin Top Losers
Di jajaran saham berkinerja terburuk, saham FORU memimpin daftar top losers sepanjang pekan. Aksi jual yang deras membuat harga saham FORU tertekan signifikan dibandingkan saham lainnya.
Berikut ringkasan pergerakan pasar selama sepekan:
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| IHSG (2/10/2026) | 6.036,89 | Turun 3,28 persen sepekan |
| IHSG (1/10/2026) | 6.009,50 | Terendah dua bulan, turun 1,02 persen |
| Rupiah | Rp17.963/USD | Melemah |
| Yield SBN 10 tahun | 7,159 persen | Naik dari 7,106 persen |
Sentimen Pasar ke Depan
Pelaku pasar mencermati kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang membebani IHSG. Pelemahan rupiah dapat memicu kekhawatiran terhadap arus modal asing, sementara kenaikan yield SBN menambah beban bagi emiten dengan utang berbunga.
Meski demikian, penguatan tipis pada perdagangan Jumat menunjukkan masih adanya minat beli selektif di tengah tekanan jual. Investor disarankan mencermati perkembangan nilai tukar dan lelang SBN untuk mengukur arah pasar pekan berikutnya.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






